July 26th, 2009

Pupuk Kimia

Seperti namanya pupuk kimia adalah pupuk yang dibuat secara kimia atau juga sering disebut dengan pupuk buatan. Pupuk kimia bisa dibedakan menjadi pupuk kimia tunggal dan pupuk kimia majemuk. Pupuk kimia tunggal hanya memiliki satu macam hara, sedangkan pupuk kimia majemuk memiliki kandungan hara lengkap. Pupuk kimia yang sering digunakan antara lain Urea dan ZA untuk hara N; pupuk TSP, DSP, dan SP-26 untuk hara P, Kcl atau MOP untuk hara K. Sedangkan pupuk majemuk biasanya dibuat dengan mencampurkan pupuk-pupuk tunggal. Komposisi haranya bermacam-macam, tergantung produsen dan komoditasnya.

Pupuk Organik

 

pupuk kompos
Kompos, pupuk organik yang murah dan mudah dibuat.

Pupuk organik seperti namanya pupuk yang dibuat dari bahan-bahan organik atau alami. Bahan-bahan yang termasuk pupuk organik antara lain adalah pupuk kandang, kompos, kascing, gambut, rumput laut dan guano. Berdasarkan bentuknya pupuk organik dapat dikelompokkan menjadi pupuk organik padat dan pupuk organik cair. Beberapa orang juga mengkelompokkan pupuk-pupuk yang ditambang seperti dolomit, fosfat alam, kiserit, dan juga abu (yang kaya K) ke dalam golongan pupuk organik. Beberapa pupuk organik yang diolah dipabrik misalnya adalah tepung darah, tepung tulang, dan tepung ikan. Pupuk organik cair antara lain adalah compost tea, ekstrak tumbuh-tumbuhan, cairan fermentasi limbah cair peternakan, fermentasi tumbuhan-tumbuhan, dan lain-lain.

Pupuk organik memiliki kandungan hara yang lengkap. Bahkan di dalam pupuk organik juga terdapat senyawa-senyawa organik lain yang bermanfaat bagi tanaman, seperti asam humik, asam fulvat, dan senyawa-senyawa organik lain. Namun, kandungan hara tersebut rendah. Berdasarkan pengalaman saya, tidak ada pupuk organik yang memiliki kandungan hara tinggi atau menyamai pupuk kimia.

Orang sering kali menghitung kebutuhan pupuk organik berdasarkan kandungan haranya saja. Kandungan hara pupuk organik disetarakan dengan kandungan hara dari pupuk kimia yang biasa digunakan. Akibatnya kebutuhan pupuk organik jadi berlipat-lipat dibandingkan dengan dosis pupuk kimia. Sebagai contoh kompos dengan kandungan sebagai berikut: 2.79 % N, 0.52 % P2O5, 2.29 % K2O. Maka dalam 1000 kg (1 ton) kompos akan setara dengan 62 kg Urea, 14.44 kg SP 36, dan 38.17 kg MOP. Cara menghitungnya sebagai berikut:

Hara N =
(%N Kompos x 1000 kg)/%N Urea = (2.79% x 1000 kg)/45% = 62 kg

Hara P=
(%P2O5 kompos x 1000 kg)/%P2O5 SP-36 = (0.52% x 1000 kg)/36% = 14.44 kg

Hara K=
(%K2O kompos x 1000 kg)/%K2O MPO = (2.29% x 1000 kg)/60% = 38.17 kg

Misalkan padi biasanya diberi pupuk kimia dengan dosis 200 kg Urea,100 kg SP-36, dan 150kg MOP/KCl. Agar haranya sama maka kompos yang diperlukan kurang lebih sebanyak 7 ton. Dosis yang besar ini akan berimplikasi langsung terhadap biaya pemupukan. Jika dihitung biaya pemupukan dengan pupuk organik/kompos jauh lebih besar daripada biaya pemupukan dengan pupuk kimia. Belum lagi biaya untuk aplikasi kompos tersebut. Perbandingan biayanya sebagai berikut:

Kenyataan di lapangan membuktikan bahwa pupuk organik/kompos tidak bisa dihitung berdasarkan unsur haranya saja. Kalau Anda tidak percaya Anda bisa melakukan percobaan sederhana untuk membandingkan kedua pupuk ini. Ambil tanah, sebaiknya gunakan tanah-tanah marjinal. Masukkan ke dalam dua polybag yang ukuran dan isinya sama. Satu polybag diberi kompos dengan dosis 0.5 – 1 kg. Polybag yang lain diberi pupuk kima beberapa sendok. Ya… kira-kira kandungan haranya sebanding. Trus tanam sembarang tanaman, bisa biji cabe, tomat, cay sim, mentimum, atau tanaman-tanaman lainnya. Letakkan di tempat yang sama. Beri perlakuan penyiraman, penyiangan, dan perlakuan lainnya yang sama. Tunggu beberapa lama hingga tanaman tumbuh besar dan menghasilkan. Coba bandingkan, tanaman mana yang lebih bagus hasilnya?

uji pupuk
Cara sederhana menguji pupuk kimia, pupuk organik, dan pupuk hayati. (A) kontrol, tanpa pemupukan sama sekali. Tanaman terlihat sangat merana. (B) Diberi pupuk kimia, tanaman tetap merana meskipun tumbuh lebih baik. (C) Diberi kompos/pupuk organik. Hasilnya jauh lebih baik. (D) Diberi pupuk organik/kompos dan biofertilizer. Tumbuhnya paling baik.

 

Saya hampir yakin 90% kalau tanaman yang diberi kompos akan tumbuh lebih baik daripada tanaman yang diberi pupuk kimia, meskipun kandungan haranya sebanding. Pertanyaannya adalah MENGAPA BISA DEMIKIAN????

Orang sering lupa bahwa selain kandungan hara, pupuk organik juga mengandung senyawa-senyawa organik lain. Meskipun kandungan haranya rendah tetapi kandungan senyawa-senyawa organik di dalam kompos ini memiliki peranan yang lebih penting dari pada peranan hara saja. Misalnya, asam humik dan asam fulvat. Kedua asam ini memiliki peranan seperti hormon yang dapat merangsang pertumbuhan tanaman. Kompos diketahui dapat meningkatkan nilai KTK (kapasitas tukar kation) tanah. Artinya tanaman akan lebih mudah menyerap unsur hara. Tanah yang diberi kompos juga menjadi lebih gembur dan aerasi tanah menjadi lebih baik. Tanah yang diberi kompos lebih banyak menyimpan air dan tidak mudah kering. Jika diamati lebih jauh, aktivitas mikroba pada tanah yang diberi kompos akan lebih tinggi daripada tanah yang tidak diberi kompos. Mikroba-mikroba ini memiliki peranan dalam penyerapan unsur hara oleh tanaman. Singkat cerita, kompos dapat memperbaiki sifat kimia, sifat fisik, dan sifat biologi tanah.

Lalu bagaimana menghitung kebutuhan pupuk organik/kompos?

Sampai saat ini saya belum menemukan rumus, baik dari pengalaman saya sendiri atau dari literatur orang lain, untuk menghitung kebutuhan pupuk organik/kompos ini. Kandungan pupuk organik sangat beragam. Karakteristiknya pun bermacam-macam. Sama-sama pupuk kandang, pupuk kandang di P Jawa bisa saja sangat berbeda dengan pupuk kandang di P Sulawesi. Belum lagi hubungannya dengan jenis tanah, iklim, kondisi lingkungan, cara budidaya dan komoditas tanaman yang berbeda-beda. Umumnya dosis pupuk organik/kompos ditentukan secara empirik. Ini adalah hasil penelitian dan ujicoba. Mungkin juga pengalaman lapang petani selama bertahun-tahun.

 

pupuk organik granul
Contoh pupuk organik berbentuk granul yang ada dipasaran.

 

Dalam kondisi tertentu, pupuk organik/kompos dapat diberikan tanpa menambahkan pupuk kimia sama sekali. Cara ini dipraktekkan dalam budidaya pertanian organik. Yang lebih sering dilakukan adalah mengkombinasikan antara pupuk organik dengan pupuk kimia. Sebagian kebutuhan hara tanaman disubstitusi antara pupuk kimia dan pupuk organik. Caranya dengan menghitung berapa kombinasi yang paling ekonomis, baik dilihat dari sisi biaya maupun hasilnya. Patokan yang sering dipakai adalah 50% dosis pupuk kimia diganti dengan sejumlah pupuk organik. Dosisnya bisa 1 – 2 kg atau bahkan hingga 30 kg/pokok.

Untuk mendapatkan dosis yang paling tepat dilakukan dengan ujicoba di rumah kaca dan di lapang dalam skala yang cukup luas.

 
pupuk hayati
Contoh biofertilizer import dalam bentuk cair.
Link terkait: Penjelasan tambahan tentang mikroba untuk memperkaya kompos

 

Nama keren pupuk hayati adalah biofertilizer. Ada yang juga menyebutnya pupuk bio. Apapun namanya pupuk hayati bisa diartikan sebagai pupuk yang hidup. Sebenarnya nama pupuk kurang cocok, karena pupuk hayati tidak mengandung hara. Pupuk hayati tidak mengandung N, P, dan K. Kandungan pupuk hayati adalah mikrooganisme yang memiliki peranan positif bagi tanaman. Kelompok mikroba yang sering digunakan adalah mikroba-mikroba yang menambat N dari udara, mikroba yang malarutkan hara (terutama P dan K), mikroba-mikroba yang merangsang pertumbuhan tanaman.

Kelompok mikroba penambat N sudah dikenal dan digunakan sejak lama. Mikroba penambat N ada yang bersimbiosis dengan tanaman dan ada juga yang bebas (tidak bersimbiosis). Contoh mikroba yang bersimbiosis dengan tanaman antara lain adalah Rhizobium sp Sedangkan contoh mikroba penambat N yang tidak bersimbiosis adalah Azosprillium sp dan Azotobacter sp.

Rhizobium
Koloni Rhizobium yang tumbuh dalam media cawan agar.

Rhizobium
Rhizobium dilihat di bawah mikroskop dengan pembesaran 30.000x

 

Rhizobium
Bentuk bintil akar yang terinfeksi Rhizobium.

 

Rhizobium
Bintil yang aktif jika dipecah akan berwarna merah darah (kiri), sedangkan bintil yang tidak aktif berwarna pucat (kanan)

 

Mikroba pelarut P dilaporkan oleh orang Rusia bernama Pikovskaya pada tahun 1948 yaitu Bacillus megatherium var. phosphaticum, dan mulai digunakan sebagai inokulum pertanian sejak tahun 1950-an Beberapa mikroba yang diketahui dapat melarutkan P dari sumber-sumber yang sukar larut ditemukan baik dari kelompok kapang/fungi seperti Penicillium sp dan Aspergillus sp, atau dari kelompok bakteri seperti Bacillus sp dan Pseudomonas sp.

Bakteri Pelarut Fosfat
Bakteri Pelarut Fosfat

 

Jamur Pelarut fosfat
Jamur/cendawan Pelarut Fosfat

 

Mikroba pelarut fosfat
Mikroba pelarut fosfat dimanfaatkan untuk memperkaya fosfat alam. Fosfat alam granul di dalam foto di atas sudah diperkaya dengan mikroba pelarut fosfat.

 

Pupuk Fosfat Mikroba lain yang juga sering digunakan adalah Mikoriza, yang terdiri dari dua kelompok utama yaitu: endomikoriza dan ektomikoriza. Mikoriza bersimbiosis dengan tanaman. Secara mudahnya endomikoriza berarti mikoriza yang ada di dalam dan ektomikoriza adalah mikoriza yang ada di luar. Endomikoriza atau VAM umumnya adalah fungi tingkat rendah sedangkan ektomikoriza adalah jamur tingkat tinggi. Mikroriza memiliki peranan yang cukup komplek. Dia tidak hanya berperan membantu penyerapan hara P, tetapi juga melindungi tanaman dari serangan penyakit dan

memberikan nutrisi lain bagi tanaman.

Mikoriza
Mikoriza
 

Mikroba yang juga sering digunakan sebagai biofertilizer adalah mikroba perangsang pertumbuhan tanaman. Mikroba dari kelompok bakteri sering disebut dengan Plant Growt Promoting Rhizobacteria (PGPR), namun sekarang juga diketahui bahwa ada juga fungi yang dapat merangsang pertumbuhan tanaman. Bakteri yang diketahui dapat merangsang pertumbuhan tanaman antara lain adalah Pseudomonas sp,  Azosprillium sp, Sedangkan fungi yang sudah diketahui adalah Trichoderma sp.

Pseudomonas sp
Pseudomonas sp, salah satu bakteri PGPR yang menghasilkan hormon.

 

Mikroba-mikroba bahan aktif pupuk hayati dikemas dalam bahan pembawa, bisa dalam bentuk cair atau padat. Pupuk hayati juga ada yang hanya terdiri dari satu atau beberapa mikroba saja, tetapi ada juga yang mengklaim terdiri dari bermacam-macam mikroba. Pupuk hayati ini yang kemudian diaplikasikan ke tanaman.

Saat ini dipasaran banyak beredar pupuk hayati. Sebagian mengklaim memiliki kandungan mikroba yang banyak dan lengkap dengan kemampuan luar biasa. Secara pribadi saya tidak percaya dengan biofertilizer yang memiliki banyak mikroba dan efektif di semua tempat, semua komoditas, dan semua kondisi.

Salah satu kelembahan mikroba adalah sangat tergantung dengan banyak hal. Mikroba sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungannya, baik lingkungan biotik maupun abiotik. Jadi biofertilizer yang cocok di daerah sub tropis belum tentu efektif di daerah tropis. Demikian juga biofertilizer yang efektif di Indonesia bagian barat, belum tentu efektif juga di wilayah Indonesia bagian timur. Mikroba yang bersimbiosis dengan tanaman lebih spesifik lagi. Misalnya Rhizobium sp yang bersimbiosis dengan kedelai varietas tertentu belum tentu cocok untuk tanaman kacang-kacangan yang lain. Umumnya mikroba yang bersimbiosis berspektrum sempit.
Trend Saat Ini

Pupuk hayati, pupuk organik, dan pupuk kimia adalah jenis pupuk yang tegas perbedaanya. Namun saat ini ada kecenderungan untuk mengkombinasikan jenis-jenis pupuk tersebut. Misalnya ada produk pupuk yang menyebut dirinya pupuk NPK organik. Pupuk ini merupakan pupuk kimia yang dikombinasikan dengan pupuk organik. Ada juga yang menyebut sebagai pupuk bioorganik. Maksudnya adalah kombinasi antara pupuk organik dengan pupuk bio (hayati). Namun masih sedikit atau bahkan tidak ada yang mengkombinasikan pupuk NPK dengan pupuk hayati. Karena umumnya mikroba tidak tahan jika disatukan dengan pupuk kimia dalam konsentrasi tinggi.

Begitu banyak sekali produk-produk pupuk dipasaran. Terserah Anda akan memilih yang mana. Saya sarankan Anda memilik pupuk hayati atau pupuk organik jika memungkinkan. Karena kedua pupuk ini sejauh ini lebih ramah lingkungan.

 

 

 

sumber: www.isroi.wordpress.com

 
July 26th, 2009

Kondisi lingkungan terutama kondisi tanah kini semakin menurun dan mengkhawatirkan. Pencemaran sudah semakin meningkat, hal itu mengakibatkan menurunnya kualitas dari tanah itu sendiri. Begitu pula air tanah juga semakin menurun kualitasnya karena pencemaran.

pupuk organikPara ahli menyatakan, semua itu dikarenakan adanya penggunaan Pupuk Mineral atau sering kita kenal dengan pupuk kimia yang berlebihan dalam penggunaannya. Dilatarbelakangi dengan kondisi semacam itu, pemerintak menggalakkan pertanian organik agar produksi pertanian Indonesia bisa meningkat.

Berkaitan dengan hal tersebut Dinas Pertanian, Perikanan dan Peternakan (Dintankannak) Kabupaten Banjarnegara menyelenggarakan kegiatan berupa Pelatihan Pengolahan Pupuk Organik yang berlangsung di aula Pesantren Al Munawwaroh Banjarnegara.

Ir. Singgih Wijaksena selaku panitia penyelenggara menjelaskan, pelatihan yang berlangsung tanggl 20 hingga 23 Mei 2009 diikuti 30 orang dari 10 Kelompok Tani se Kabupaten Banjarnegara, dimaksudkan guna meningkatkan pengetahun, wawasan dan ketrampilan bagi kelompok tani.

Materi yang disampaikan diantaranya Kebijakan Pembangunan Pertanian Tanaman Pangan Kabupaten Banjarnegara, Bio teknologi pembuatan pupuk organik, Pemanfaatan pupuk organik untuk peningkatan produksi, Mekanisasi pupuk organik dan perawatannya, Dinamika kelompok, praktek pembuatan pupuk organik. Disamping teori, para peserta diajak studi banding ke daerah yang sudah maju dalam pembuatan pupuk organik yaitu ke daerah Klaten dan Sukoharjo.

Menurut Ir. Singgih Wijaksena, kepada sepuluh Kelompok Tani tersebut pada saatnya nanti akan diberikan Alat Pengolah Pupuk Organik (APPO), dan pada saatnya pula Dintankannak Kabupaten Banjarnegara akan melakukan evaluasi tentang pemanfaatan alat tersebut.

 
July 26th, 2009

Kelangkaan pupuk kimia yang terjadi di Ngawi membuat petani mulai melirik jenis organik. Kemarin (18/12) misalnya, ratusan warga Desa Soco Jogorogo mengantre pupuk organik di salah satu kios setempat.

Meski hanya jenis organik, untuk memperolehnya petani juga harus mengantre. Itu pun dari jumlah pupuk yang tersedia, dibagi rata untuk 4 kelompok tani di desa setempat. Warga mengaku menggunakan pupuk organik karena terpaksa. ”Wong adanya pupuk organik itu ya kita gunakan dari pada tanaman padi kita mati karena tidak dipupuk,” kata Suratno, salah seorang warga.

Menurut Suratno, penggunaan pupuk organik itu hanya bersifat sementara. Ia dan teman-teman sesama petani lainnya masih tetap membutuhkan pupuk kimia untuk nutrisi tanaman padi miliknya. Karena kalau hanya mengandalkan pupuk organik, lanjut dia, hasil panen bisa menurun. Untuk itu ia tetap berharap agar pemerintah tetap menyupalai pupuk kimia.

Suratno mengatakan, sudah hampir dua minggu terakhir pasokan pupuk di desanya tersendat. Bahkan, jenis ZA dan TSP sama sekali tidak ada. ”Selama dua minggu ini kita baru mendapatkan jatah pupuk Urea sekali. Sedangkan ZA dan TSP tidak pernah dapat,” ujar Suratno.

Hal senada diungkapkan Sukayat. Ia mengaku menggunakan pupuk organik lantaran langkanya pupuk kimia di pasaran, termasuk di desa Soco. ”Jadi ya terpaksa menggunakan pupuk yang ada. Adanya pupuk organik ya kita pakai,” ungkapnya. Dijelaskan Sukayat, pupuk organik sebenarnya hanya sebagai pupuk dasar. Itu digunakan pertama kali sebelum para petani bercocok tanam. Karena sifatnya sebagai penyubur, pupuk organik disebar ke sawah sebelum ditanani. ”Kalau padi sudah ditanam, pupuk yang digunakan harus pupuk kimia. Kecuali untuk tanaman palawija, bisa menggunakan pupuk organik,” kata Sukayat.

 

 

sumber: jawapos

 
July 26th, 2009

Kepala Dinas Pertanian Lampung Utara (Lampura) H. Irhansyah Thoib, mengatakan penggunaan pupuk organik di lahan pertanian mampu meningkatkan hasil panen padi dan hortikultura sebesar 2 persen

Dia mengatakan itu saat membuka rapat kerja bulanan di Dinas Pertanian, Senin (6-4).

Dalam rapat, Irhansyah menekankan kepada UPTD yang hadir tentang manfaat penggunaan pupuk organik karena memiliki nilai lebih. Selain ramah lingkungan, bahan dasar pupuk amat melimpah di sekitar warga.

"Yang dibutuhkan sekarang tinggal bagaimana petani mengolah dan memanfaatkan bahan baku tersebut," kata dia.

"Yang tak kalah penting, harga pupuk ini murah dan dapat dibeli petani dengan harga terjangkau," ujarnya.

Pupuk organik adalah potensi yang belum tergarap maksimal di Kabupaten Lampung Utara. Dan bila penggunaannya dimaksimalkan, dapat sesuai program swasembada beras, khususnya untuk Lampung Utara.

Di Kabupaten ini, kebanyakan petani padi dan hortikultura tergantung pupuk kimia. Pupuk kimia memiliki keunggulan mendongrak hasil panen dalam waktu singkat dibanding pupuk organik. Tapi bila melihat kelestarian lahan, jangka panjang akan terlihat jelas bedanya.

Makin lama menggunakan pupuk organik, alam akan semakin subur. Berbeda dengan pupuk kimia, walaupun hasilnya melimpah lahan yang semakin lama semakin tergerus kesuburannya. Hal senada diungkapkan Kasi pembibitan dan hortikultura, Murdoko. Menurut dia, padi yang menggunakan tambahan pupuk organik bersamaan dengan pupuk kimia terbukti meningkatkan hasil panen padi per hektare sekitar 2 kuintal tiap 5 tonnya. Atau, bila di lahan jagung ada kenaikan sekitar 2–5 persen per hektare. CHA/N

 

 

http://www.lampungpost.com/cetak/berita.php?id=2009040807020824

 
July 26th, 2009

Departemen Pertanian akan fokus mendorong petani untuk menggunakan pupuk organik dan bio-organik sebagai substitusi pupuk kimia. Hal itu dilakukan dalam rangka menekan pemakaian pupuk kimia yang boros anggaran dan merusak lahan pertanian.

Demikian dikatakan Menteri Pertanian Anton Apriyantono dalam kunjungan kerja terkait evaluasi program pertanian di Provinsi Sulawesi Selatan selama empat hari, 19-23 Maret 2009.

Selain terus mendorong penggunaan pupuk organik, Deptan melalui program peningkatan produktivitas tanaman pangan seperti Sekolah Lapang dan Pengelolaan Tanaman dan Sumber Daya Terpadu (SL-PTT), memanfaatkan penggunaan pupuk organik.

Terbukti dengan mengurangi penggunaan urea dari 300-400 kilogram per hektar menjadi 100 kilogram, NPK ditingkatkan menjadi 300 kilogram per hektar, dan pupuk organik 500 kilogram per hektar, produktivitas tanaman padi dalam program SL-PTT bisa ditingkatkan.

 

Dua pekan lalu, Menteri Riset dan Teknologi Kusmayanto Kadiman menyatakan bahwa riset di bidang pangan, salah satunya diarahkan untuk pengembangan pupuk bioorganik atau biofertilizer.

Hal tersebut dilakukan karena pupuk organik lebih ramah lingkungan, sementara anggaran subsidi pupuk kimia terus membengkak, dan adanya kendala suplai gas ke industri pupuk.

Anton menyatakan, penggunaan urea harus dikurangi secara bertahap, tidak bisa langsung besar karena selama ini petani sudah terbiasa dengan urea. ”Harus ada upaya terus-menerus untuk mengajak petani menggunakan pupuk organik,” katanya.
 

Pengolahan pupuk

Sementara itu, Kementerian Negara Urusan Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Kemennegkop) mulai membidik koperasi untuk aktif memainkan peran dalam mengembangkan pupuk organik.

Setelah Bali dan Malang, pengembangan pupuk organik diperluas dengan disosialisasikan ke koperasi Pasar Induk Kemang, Bogor, Jawa Barat. Dalam sosialisasi tersebut terungkap bahwa pendirian pabrik pengolahan pupuk organik di Bogor ini diperkirakan mencapai Rp 711 juta.

Alokasi dana tersebut digunakan untuk bangunan Rp 200 juta, pengolahan pupuk organik Rp 190 juta, dan sisanya digunakan untuk mengolah menjadi granul atau butiran pupuk organik serta sosialisasi ke masyarakat. ”Pada intinya, pengembangan pengolahan sampah menjadi pupuk organik mampu membuka lapangan kerja,” kata Menneg Koperasi dan UKM Suryadharma Ali, Selasa (24/3).

Deputi Pengkajian Kemennegkop dan UKM Wayan Dipta menjelaskan, biaya operasional untuk pengolahan pupuk organik ini Rp 20,9 juta per bulan, sedangkan tenaga kerja yang terserap langsung 15 orang, ditambah seorang manajer.

 

Sumber: Kompas.com Rabu 25 Maret 2009 10.07 WIB

 
July 26th, 2009

Menteri Pertanian republik Indonesia, Anton Aprianto mengajak petani Kabupaten Manggarai untuk memanfaatkan pupuk organik dalam usaha pertanian.

Pupuk organik sangat murah, bila dibandingkan dengan pupuk kimia yang harganya maha. Selain itu, petani bisa memproduksi sendiri pupuk organik tersebut melalui bahan-bahan yang mudah didapat seperti dari jerami padi, daun-daunan, kotoran ternak dan sebagainya.

“Hilangkan ketergantungan petani terhadap pupuk kimia, tetapi mulai sekarang petani diajak untuk memafaatkan pupuk organik untuk meningkatkan usaha pertanian masyarakat,” kata Meneteri Aprianto, ketika bertatap muka dengan sejumlah kelompok tani Manggarai, di Aula Ranaka, Kantor Bupati Manggarai, Senin (22/6) malam.

Pada kesempatan tatap muka dengan sejumlah kelompok tani Kabupaten Manggarai itu, Menteri Pertanian Anton Aprianto mengatakan, Manggarai sebenarnya kabupaten yang subur, karena saya sudah mengunjungi kabupaten ini ketika mendampingi Presiden Susilo Bambang Yudoyono pada saat bencana alam kali lalu.

Dan Manggarai sebenarnya tidak terjadi rawan pangan atau gagal panen, asal saja kita harus menjaga kelestarian alamnya. Alam sangat berpengaruh terhadap peningkatan produksi pertanian. kemudian jenis tanaman juga harus disesuaikan dengan konsisi tanah.

Misi nasional dibidang pertanian , kata Aprianto, yang pertama adalah meningkatkan ketahanan pangan. Banyak daerah yang tingkat curah hjan cukup lama, namun sayang masih ada daerah yang rawan pangan dan gagal panen serta jumlah kk miskin juga tinggi. Nah, untuk itu kita harus evaluasi, apa permasalahannya.

Di lapangan memang ditemukan masih banyak tanah yang terlantar, termasuk disekitar perkarangan rumah yang tidak dimanfaatkan untuk ditanam sesuatu tanaman yang bermanfaat. Selain itu, masyarakat juga sangat tergantung pada pangan jenis beras. Padahal masalah pemenuhan kebutuhan pangan ini sebenarnya tidak hanya beras, tetapi masih banyak jenis pangan lainnya yang belum dikembangkan secara optimal.

“Tidak ada kekurangan pangan kalau masyarakat kita rajin menanam, dan tidak menggantungkan pada beras saja, karena masih banyak jenis pangan lainnya, hanya saja masyarakat belum mengembangkannya secara optimal, seperti jagung, ubi kayu, pisang dan lain sebagaianya,” ujar Aprianto.

Kemudian misi kedua adalah meningkatkan nilai tambah dan daya saing yaitu adanya efisien, misalnya kalau harga pupuk kimia mahal maka petani dapat menggunakan pupuk organik, yang dapat diproduksi sendiri.

Karena sering terjadi di masyarakat, dimana kalau tidak ada pupuk kimia maka masyarakat atau petani tidak mau menanam. Sebaiknya masyarakat tidak tergantung pada pemakaian pupuk kimia tetapi diharapkan untuk mengalihkan ke pupuk organik, begitu juga penggunaan pestisida supaya dikurangi.

Untuk meningkatkan nilai tambah dan daya saing ini, lanjut Aprianto, sebaiknya hasil produksi pertanian masyarakat harus diolah secara baik. Misalnya, untuk petani buah-buahan, bagaimana bisa mendapatkan nilai tambah kalau tidak dikemas secara baik sebelum dijual dipasaran.

“Pengolahan hasil pertanian juga sangat menentukan nilai tambah dari suatu produk yang dihasilkan,” katanya.

Selanjutnya misi ke tiga, meningkatkan kesejahteraan petani, bagaimana upaya biaya kesehatan bagi petani diringankan, subsidi pupuk dan pembangunan sektor pertanian lainnya perlu ditingkatkan.

Plt. Sekda Manggarai, Frans Hany pada kesempatan tatap muka dengan Menteri Pertanian Anton Aprianto itu mengatakan, kunjungan menteri pertanian di Kabupaten Manggarai merupakan suatu penghargaan dan bentuk kepedulian atau dukungan bagi daerah ini. Manggarai, kata Hany, merupakan daerah pertanian.Karena itu, mata pencaharian masyarakat Manggarai didominasi oleh sektor pertanian.

“Memang selama ini sudah banyak perhatian dari pemerintah pusat bagi Kabupaten Manggarai, melalui dinas-dinas kemakmuran yang ada di daerah ini. Kami juga sangat mengharapkan agar kedepan pemerintah pusat tetap memperhatikan pembangunan di Manggarai, khususnya di bidang pertanian, karena masih banyak lahan pertanian yang membutuhkan pembangunan jaringan irigasi,” kata Hany.

Selanjutnya, sejumlah kelompok tani di Manggarai, ketika berdialog dengan Menteri Pertanian Aprianto, mengeluhkan kekurangan pupuk, masih banyak jaringan irigasi yang perlu dibangun. Dan meminta alat untuk pembuatan pupuk organik.

 

Sumber : nttonlinenews.com

 
July 26th, 2009

Departemen Pertanian (Deptan) akan menggenjot penggunaan pupuk organik untuk memperbaiki kualitas lahan pertanian irigasi. Saat ini, sekitar 60% atau 3 juta hektare lahan pertanian irigasi mengalami degradasi kualitas akibat penggunaan pupuk anorganik yang berlebihan.

Untuk itu, selama dua tahun 2009-2010, Deptan menargetkan akan membangun sedikitnya 110 rumah kompos di 75 kabupaten di Indonesia dengan anggaran sekitar Rp 100 juta untuk pengembangan pupuk organik. Namun tidak seluruh dana di tanggung oleh Deptan, karena dari 110 total rumah kompos yang akan dibangun sebanyak 65 unit berasal dari dana pemerintah daerah.

“Pemerintah pusat, petani dan pemerintah daerah akan ikut berkontribusi. Diharapkan nantinya seluruh desa yang memiliki lahan pertanian irigasi akan memiliki rumah kompos,” kata Direktur Jenderal Pengolahan Lahan dan Air (PLA) Deptan Hilman Manan di Jakarta.

Ia menjelaskan, potensi pengembangan pupuk organik sangat besar karena Indonesia memiliki bahan baku yang sangat luas. Tak hanya menguntungkan petani, penggunaan pupuk organik juga akan menguntungkan negara karena penyediaan subsidi pupuk urea untuk masyarakat juga akan berkurang.

 

disadur dari kontan.co.id

 
July 25th, 2009

Tiga tahun belakangan masyarakat menilai produktivitas pertanian meningkat cukup pesat. Semenjak pupuk organik digunakan oleh para petani sebagai pendamping pupuk kimia, yang kerap kali langkadi pasaran. Tak heran, bila kelompok tani (poktan) Desa Paleran yang tergabung dalam Prima Tani mengusulkan bantuan mesin pembuat pupuk tersebut. Dikarenakan kebutuhan dan permintaan pupuk alami itu mulai meninggi.

Petani Desa Paleran Kecamatan Umbulsari, Mahfud, mengatakan, selama 3 tahun terakhir pada produktivitas pertanian di Desa Paleran sudah banyak perubahan. Peningkatan itu, katanya, dibuktikan dengan naiknya angka panen dibandingkan 4-5 tahun lalu. “Saat ini produktivitas pertanian di Desa Paleran sudah mulai membaik,” katanya.

Selisih kenaikan hasil panen padi mulai cenderung lebih besar. Sekarang ini, rata-rata hasil panen padi di Paleran mencapai 8,5 ton per hektar. Angka itu berselisih 3 ton lebih banyak dibandingkan dengan hasil panen 4 tahun sebelumnya. “Kami merasa terjadi peningkatan yang cukup besar dari hasil usaha tani yang kami lakukan,” ungkapnya.

Bukan hanya padi yang mengalami kenaikan hasil. Tanaman kedelai pun mengalami hal serupa. Pada awalnya secara maksimal, hasil produksi kedelai hanya bertengger pada kisaran 1,1 ton per hektarnya. Setelah petani menggunakan pupuk organik, hasil panennya meningkat tajam hingga 2,3 ton per hektar. “Kami mengalami peningkatan yang sama pada tanaman kedelai,” tuturnya.

Makanya, guna mengoptimalkan penggunaan pupuk organik dalam upaya peningkatan produktivitas pertanian di Desa Paleran, katanya, petani membutuhkan bantuan mesin pembuat pupuk organik. Alat itu menurutnya, penting dalam mengoptimalkan produktivitas petani disamping untuk menekan biaya produksi di sektor pupuk. Karena dengan mesin itu petani bisa secara swadaya memproduksi pupuk sendiri tanpa harus membeli.

“Kami mengajukan mesin pembuat pupuk organik secara grandun karena saat ini petani di Paleran dan Umbulsari sudah merasa pakewuh untuk menggunakan pupuk buatan. Karena disamping sering langka di pasaran juga akan menyebabkan unsur hara tanah semakin berkurang,” ungkapnya, dalam Pelaksanaan Dialog Solutif Bupati Jember Bedah Potensi Desa di lapangan Desa Gunungsari Kecamatan Umbulsari.

Mahfud mengatakan, masyarakat Desa Umbulsari mulai memanfaatkan urin sapi sebagai pupuk, yang bisa dimanfaatkan guna penambah unsur hara tanah. Teknologi pengolah urin jadi pupuk itu merupakan hasil dari bantuan yang diberikan pada Desa Paleran oleh .

Ia mengatakan, mesin pengolah urin sapi menjadi pupuk sebagai sarana dan prasarana yang diglontor oleh Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakkan) saat ini telah menghasilkan bio urin yang dimanfaatkan petani. Selain itu, bantuan 2 mesin pembuat konsentrat sebagai pakan sapi dari Disnakkan, ujarnya, juga telah cukup membantu para peternak. Sebab dengan mesin konsentrat untuk membuat pakan sapi, para peternak tidak perlu lagi merumput.

Bahkan, selain menghasilkan kotoran yang bisa diolah jadi pupuk organik. Konsentrat yang sudah menjadi kotoran itu bisa menghasilkan bio gas. “Gas yang dikeluarkan bisa dimanfaatkan untuk memasak, seperti saat ini masyarakat sudah mulai beralih gas elpiji,” tukasnya.

Dari hasil pengolahan urin dan kotoran sapi itulah, ungkapnya, poktan di Desa Umbulsari berusaha untuk memenuhi pupuk organik. Namun produksi pupuk itu beloh dikatakan tidak begitu tinggi. Oleh karenanya, petani setempat menginginkan adanya bantuan mesin pembuat pupuk organik secara grandun.
 

sumber : www.jemberpost.com (Senin 06 April 2009)

 
July 25th, 2009

Pupuk organik seperti namanya pupuk yang dibuat dari bahan-bahan organik atau alami. Bahan-bahan yang termasuk pupuk organik antara lain adalah pupuk kandang, kompos, kascing, gambut, rumput laut dan guano. Berdasarkan bentuknya pupuk organik dapat dikelompokkan menjadi pupuk organik padat dan pupuk organik cair. Beberapa orang juga mengkelompokkan pupuk-pupuk yang ditambang seperti dolomit, fosfat alam, kiserit, dan juga abu (yang kaya K) ke dalam golongan pupuk organik. Beberapa pupuk organik yang diolah dipabrik misalnya adalah tepung darah, tepung tulang, dan tepung ikan. Pupuk organik cair antara lain adalah compost tea, ekstrak tumbuh-tumbuhan, cairan fermentasi limbah cair peternakan, fermentasi tumbuhan-tumbuhan, dan lain-lain.

Pupuk organik memiliki kandungan hara yang lengkap. Bahkan di dalam pupuk organik juga terdapat senyawa-senyawa organik lain yang bermanfaat bagi tanaman, seperti asam humik, asam fulvat, dan senyawa-senyawa organik lain. Namun, kandungan hara tersebut rendah. Berdasarkan pengalaman saya, tidak ada pupuk organik yang memiliki kandungan hara tinggi atau menyamai pupuk kimia.

Orang sering kali menghitung kebutuhan pupuk organik berdasarkan kandungan haranya saja. Kandungan hara pupuk organik disetarakan dengan kandungan hara dari pupuk kimia yang biasa digunakan. Akibatnya kebutuhan pupuk organik jadi berlipat-lipat dibandingkan dengan dosis pupuk kimia. Sebagai contoh kompos dengan kandungan sebagai berikut: 2.79 % N, 0.52 % P2O5, 2.29 % K2O. Maka dalam 1000 kg (1 ton) kompos akan setara dengan 62 kg Urea, 14.44 kg SP 36, dan 38.17 kg MOP. Cara menghitungnya sebagai berikut:

Hara N =
(%N Kompos x 1000 kg)/%N Urea = (2.79% x 1000 kg)/45% = 62 kg

Hara P=
(%P2O5 kompos x 1000 kg)/%P2O5 SP-36 = (0.52% x 1000 kg)/36% = 14.44 kg

Hara K=
(%K2O kompos x 1000 kg)/%K2O MPO = (2.29% x 1000 kg)/60% = 38.17 kg

Misalkan padi biasanya diberi pupuk kimia dengan dosis 200 kg Urea,100 kg SP-36, dan 150kg MOP/KCl. Agar haranya sama maka kompos yang diperlukan kurang lebih sebanyak 7 ton. Dosis yang besar ini akan berimplikasi langsung terhadap biaya pemupukan. Jika dihitung biaya pemupukan dengan pupuk organik/kompos jauh lebih besar daripada biaya pemupukan dengan pupuk kimia. Belum lagi biaya untuk aplikasi kompos tersebut. Perbandingan biayanya sebagai berikut:

Kenyataan di lapangan membuktikan bahwa pupuk organik/kompos tidak bisa dihitung berdasarkan unsur haranya saja. Kalau Anda tidak percaya Anda bisa melakukan percobaan sederhana untuk membandingkan kedua pupuk ini. Ambil tanah, sebaiknya gunakan tanah-tanah marjinal. Masukkan ke dalam dua polybag yang ukuran dan isinya sama. Satu polybag diberi kompos dengan dosis 0.5 – 1 kg. Polybag yang lain diberi pupuk kima beberapa sendok. Ya… kira-kira kandungan haranya sebanding. Trus tanam sembarang tanaman, bisa biji cabe, tomat, cay sim, mentimum, atau tanaman-tanaman lainnya. Letakkan di tempat yang sama. Beri perlakuan penyiraman, penyiangan, dan perlakuan lainnya yang sama. Tunggu beberapa lama hingga tanaman tumbuh besar dan menghasilkan. Coba bandingkan, tanaman mana yang lebih bagus hasilnya?
Uji pupuk
Cara sederhana menguji pupuk kimia, pupuk organik, dan pupuk hayati. (A) kontrol, tanpa pemupukan sama sekali. Tanaman terlihat sangat merana. (B) Diberi pupuk kimia, tanaman tetap merana meskipun tumbuh lebih baik. (C) Diberi kompos/pupuk organik. Hasilnya jauh lebih baik. (D) Diberi pupuk organik/kompos dan biofertilizer. Tumbuhnya paling baik.

Saya hampir yakin 90% kalau tanaman yang diberi kompos akan tumbuh lebih baik daripada tanaman yang diberi pupuk kimia, meskipun kandungan haranya sebanding. Pertanyaannya adalah MENGAPA BISA DEMIKIAN????

Orang sering lupa bahwa selain kandungan hara, pupuk organik juga mengandung senyawa-senyawa organik lain. Meskipun kandungan haranya rendah tetapi kandungan senyawa-senyawa organik di dalam kompos ini memiliki peranan yang lebih penting dari pada peranan hara saja. Misalnya, asam humik dan asam fulvat. Kedua asam ini memiliki peranan seperti hormon yang dapat merangsang pertumbuhan tanaman. Kompos diketahui dapat meningkatkan nilai KTK (kapasitas tukar kation) tanah. Artinya tanaman akan lebih mudah menyerap unsur hara. Tanah yang diberi kompos juga menjadi lebih gembur dan aerasi tanah menjadi lebih baik. Tanah yang diberi kompos lebih banyak menyimpan air dan tidak mudah kering. Jika diamati lebih jauh, aktivitas mikroba pada tanah yang diberi kompos akan lebih tinggi daripada tanah yang tidak diberi kompos. Mikroba-mikroba ini memiliki peranan dalam penyerapan unsur hara oleh tanaman. Singkat cerita, kompos dapat memperbaiki sifat kimia, sifat fisik, dan sifat biologi tanah.

Lalu bagaimana menghitung kebutuhan pupuk organik/kompos?

Sampai saat ini saya belum menemukan rumus, baik dari pengalaman saya sendiri atau dari literatur orang lain, untuk menghitung kebutuhan pupuk organik/kompos ini. Kandungan pupuk organik sangat beragam. Karakteristiknya pun bermacam-macam. Sama-sama pupuk kandang, pupuk kandang di P Jawa bisa saja sangat berbeda dengan pupuk kandang di P Sulawesi. Belum lagi hubungannya dengan jenis tanah, iklim, kondisi lingkungan, cara budidaya dan komoditas tanaman yang berbeda-beda. Umumnya dosis pupuk organik/kompos ditentukan secara empirik. Ini adalah hasil penelitian dan ujicoba. Mungkin juga pengalaman lapang petani selama bertahun-tahun.

Pupuk Organik
Contoh pupuk organik berbentuk granul yang ada dipasaran.

Dalam kondisi tertentu, pupuk organik/kompos dapat diberikan tanpa menambahkan pupuk kimia sama sekali. Cara ini dipraktekkan dalam budidaya pertanian organik. Yang lebih sering dilakukan adalah mengkombinasikan antara pupuk organik dengan pupuk kimia. Sebagian kebutuhan hara tanaman disubstitusi antara pupuk kimia dan pupuk organik. Caranya dengan menghitung berapa kombinasi yang paling ekonomis, baik dilihat dari sisi biaya maupun hasilnya. Patokan yang sering dipakai adalah 50% dosis pupuk kimia diganti dengan sejumlah pupuk organik. Dosisnya bisa 1 – 2 kg atau bahkan hingga 30 kg/pokok.

Untuk mendapatkan dosis yang paling tepat dilakukan dengan ujicoba di rumah kaca dan di lapang dalam skala yang cukup luas.

 

 

Disadur dari http://nikasary.wordpress.com/2009/06/13/pupuk-organik/

 
July 25th, 2009

TERBANGGI BESAR (Lampost): Untuk mengantisipasi kelangkaan pupuk kimia ketika memasuki musim tanam, petani di Lampung Tengah mulai beralih menggunakan pupuk organik.

Kamso, ketua Gapoktan Binjaiagung, Bekri, Lamteng, mengatakan petani di kelompoknya kini menggunakan pupuk organik dan kompos.

Petani di dusun ini merupakan petani cabai dan mereka semua telah beralih pada pupuk organik. Sedangkan untuk petani yang menanam padi baru menggunakan pupuk organik pada musim tanam 2009.

"Umur tanaman padi saat ini mencapai tiga bulan, tapi dalam pertumbuhan dan perkembangannya ada perbedaan, terutama pada tingkat kesuburan," ujar peraih juara I Nasional Ketahanan Pangan tersebut.

Mereka hanya menggunakan pupuk kimia sekitar 50 persen, sisanya pupuk organik. Buah yang sudah mulai tumbuh tampak sehat, dan anakannya juga lebih subur dan banyak.

Kamso belum dapat memperkirakan kenaikan produksi setelah menggunakan pupuk organik.

"Tapi kalau dilihat dari bakal buah, akan terjadi kenaikan produksi sampai 20 persen," kata dia.

Paridjo, Gapoktan di Kecamatan Rumbia mengatakan pupuk organik selain lebih ekonomis juga lebih aman.

"Kami sedang berupaya menggunakan metode pertanian yang ekonomis tapi dengan hasil yang maksimal. Salah satu jalan dengan mencoba Pomi, pupuk organik yang tampaknya mampu menjadi pengganti pupuk kimia seperti urea dan KCl," ujarnya.

Dari data Dinas Pertanian, Tanaman Pangan, dan Hortikultura Lamteng, tercatat ketersedian pupuk organik masih sangat minim. Dari kebutuhan riil tahun 2009 sebanyak 163,3 ton, Lamteng hanya dapat memenuhi 3 ton atau 2 persen.
 
"Memang masih sangat jauh dari kebutuhan riil kami, tapi untuk sementara kebutuhan pupuk organik kendati kecil masih sangat dibutuhkan oleh petani," ujar Samijo, kepala Bidang Bina Usaha Dinas Pertanian, Tanaman Pangan, dan Hortikultura Lamteng.

 

 

Disadur dari Lampung Post

 
  • Galery

    Get the Flash Player to see the slideshow.
  •  

    February 2010
    M T W T F S S
    « Jul    
    1234567
    891011121314
    15161718192021
    22232425262728
  • Online Chat