Tiga tahun belakangan masyarakat menilai produktivitas pertanian meningkat cukup pesat. Semenjak pupuk organik digunakan oleh para petani sebagai pendamping pupuk kimia, yang kerap kali langkadi pasaran. Tak heran, bila kelompok tani (poktan) Desa Paleran yang tergabung dalam Prima Tani mengusulkan bantuan mesin pembuat pupuk tersebut. Dikarenakan kebutuhan dan permintaan pupuk alami itu mulai meninggi.
Petani Desa Paleran Kecamatan Umbulsari, Mahfud, mengatakan, selama 3 tahun terakhir pada produktivitas pertanian di Desa Paleran sudah banyak perubahan. Peningkatan itu, katanya, dibuktikan dengan naiknya angka panen dibandingkan 4-5 tahun lalu. “Saat ini produktivitas pertanian di Desa Paleran sudah mulai membaik,” katanya.
Selisih kenaikan hasil panen padi mulai cenderung lebih besar. Sekarang ini, rata-rata hasil panen padi di Paleran mencapai 8,5 ton per hektar. Angka itu berselisih 3 ton lebih banyak dibandingkan dengan hasil panen 4 tahun sebelumnya. “Kami merasa terjadi peningkatan yang cukup besar dari hasil usaha tani yang kami lakukan,” ungkapnya.
Bukan hanya padi yang mengalami kenaikan hasil. Tanaman kedelai pun mengalami hal serupa. Pada awalnya secara maksimal, hasil produksi kedelai hanya bertengger pada kisaran 1,1 ton per hektarnya. Setelah petani menggunakan pupuk organik, hasil panennya meningkat tajam hingga 2,3 ton per hektar. “Kami mengalami peningkatan yang sama pada tanaman kedelai,” tuturnya.
Makanya, guna mengoptimalkan penggunaan pupuk organik dalam upaya peningkatan produktivitas pertanian di Desa Paleran, katanya, petani membutuhkan bantuan mesin pembuat pupuk organik. Alat itu menurutnya, penting dalam mengoptimalkan produktivitas petani disamping untuk menekan biaya produksi di sektor pupuk. Karena dengan mesin itu petani bisa secara swadaya memproduksi pupuk sendiri tanpa harus membeli.
“Kami mengajukan mesin pembuat pupuk organik secara grandun karena saat ini petani di Paleran dan Umbulsari sudah merasa pakewuh untuk menggunakan pupuk buatan. Karena disamping sering langka di pasaran juga akan menyebabkan unsur hara tanah semakin berkurang,” ungkapnya, dalam Pelaksanaan Dialog Solutif Bupati Jember Bedah Potensi Desa di lapangan Desa Gunungsari Kecamatan Umbulsari.
Mahfud mengatakan, masyarakat Desa Umbulsari mulai memanfaatkan urin sapi sebagai pupuk, yang bisa dimanfaatkan guna penambah unsur hara tanah. Teknologi pengolah urin jadi pupuk itu merupakan hasil dari bantuan yang diberikan pada Desa Paleran oleh .
Ia mengatakan, mesin pengolah urin sapi menjadi pupuk sebagai sarana dan prasarana yang diglontor oleh Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakkan) saat ini telah menghasilkan bio urin yang dimanfaatkan petani. Selain itu, bantuan 2 mesin pembuat konsentrat sebagai pakan sapi dari Disnakkan, ujarnya, juga telah cukup membantu para peternak. Sebab dengan mesin konsentrat untuk membuat pakan sapi, para peternak tidak perlu lagi merumput.
Bahkan, selain menghasilkan kotoran yang bisa diolah jadi pupuk organik. Konsentrat yang sudah menjadi kotoran itu bisa menghasilkan bio gas. “Gas yang dikeluarkan bisa dimanfaatkan untuk memasak, seperti saat ini masyarakat sudah mulai beralih gas elpiji,” tukasnya.
Dari hasil pengolahan urin dan kotoran sapi itulah, ungkapnya, poktan di Desa Umbulsari berusaha untuk memenuhi pupuk organik. Namun produksi pupuk itu beloh dikatakan tidak begitu tinggi. Oleh karenanya, petani setempat menginginkan adanya bantuan mesin pembuat pupuk organik secara grandun.
sumber : www.jemberpost.com (Senin 06 April 2009)
Tags: manfaat pupuk organik, penggunaan pupuk organik, pupuk organik, tanaman kedelai, tanaman padi














