Posts Tagged ‘penggunaan pupuk organik’

Saturday, July 25th, 2009

Tiga tahun belakangan masyarakat menilai produktivitas pertanian meningkat cukup pesat. Semenjak pupuk organik digunakan oleh para petani sebagai pendamping pupuk kimia, yang kerap kali langkadi pasaran. Tak heran, bila kelompok tani (poktan) Desa Paleran yang tergabung dalam Prima Tani mengusulkan bantuan mesin pembuat pupuk tersebut. Dikarenakan kebutuhan dan permintaan pupuk alami itu mulai meninggi.

Petani Desa Paleran Kecamatan Umbulsari, Mahfud, mengatakan, selama 3 tahun terakhir pada produktivitas pertanian di Desa Paleran sudah banyak perubahan. Peningkatan itu, katanya, dibuktikan dengan naiknya angka panen dibandingkan 4-5 tahun lalu. “Saat ini produktivitas pertanian di Desa Paleran sudah mulai membaik,” katanya.

Selisih kenaikan hasil panen padi mulai cenderung lebih besar. Sekarang ini, rata-rata hasil panen padi di Paleran mencapai 8,5 ton per hektar. Angka itu berselisih 3 ton lebih banyak dibandingkan dengan hasil panen 4 tahun sebelumnya. “Kami merasa terjadi peningkatan yang cukup besar dari hasil usaha tani yang kami lakukan,” ungkapnya.

Bukan hanya padi yang mengalami kenaikan hasil. Tanaman kedelai pun mengalami hal serupa. Pada awalnya secara maksimal, hasil produksi kedelai hanya bertengger pada kisaran 1,1 ton per hektarnya. Setelah petani menggunakan pupuk organik, hasil panennya meningkat tajam hingga 2,3 ton per hektar. “Kami mengalami peningkatan yang sama pada tanaman kedelai,” tuturnya.

Makanya, guna mengoptimalkan penggunaan pupuk organik dalam upaya peningkatan produktivitas pertanian di Desa Paleran, katanya, petani membutuhkan bantuan mesin pembuat pupuk organik. Alat itu menurutnya, penting dalam mengoptimalkan produktivitas petani disamping untuk menekan biaya produksi di sektor pupuk. Karena dengan mesin itu petani bisa secara swadaya memproduksi pupuk sendiri tanpa harus membeli.

“Kami mengajukan mesin pembuat pupuk organik secara grandun karena saat ini petani di Paleran dan Umbulsari sudah merasa pakewuh untuk menggunakan pupuk buatan. Karena disamping sering langka di pasaran juga akan menyebabkan unsur hara tanah semakin berkurang,” ungkapnya, dalam Pelaksanaan Dialog Solutif Bupati Jember Bedah Potensi Desa di lapangan Desa Gunungsari Kecamatan Umbulsari.

Mahfud mengatakan, masyarakat Desa Umbulsari mulai memanfaatkan urin sapi sebagai pupuk, yang bisa dimanfaatkan guna penambah unsur hara tanah. Teknologi pengolah urin jadi pupuk itu merupakan hasil dari bantuan yang diberikan pada Desa Paleran oleh .

Ia mengatakan, mesin pengolah urin sapi menjadi pupuk sebagai sarana dan prasarana yang diglontor oleh Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakkan) saat ini telah menghasilkan bio urin yang dimanfaatkan petani. Selain itu, bantuan 2 mesin pembuat konsentrat sebagai pakan sapi dari Disnakkan, ujarnya, juga telah cukup membantu para peternak. Sebab dengan mesin konsentrat untuk membuat pakan sapi, para peternak tidak perlu lagi merumput.

Bahkan, selain menghasilkan kotoran yang bisa diolah jadi pupuk organik. Konsentrat yang sudah menjadi kotoran itu bisa menghasilkan bio gas. “Gas yang dikeluarkan bisa dimanfaatkan untuk memasak, seperti saat ini masyarakat sudah mulai beralih gas elpiji,” tukasnya.

Dari hasil pengolahan urin dan kotoran sapi itulah, ungkapnya, poktan di Desa Umbulsari berusaha untuk memenuhi pupuk organik. Namun produksi pupuk itu beloh dikatakan tidak begitu tinggi. Oleh karenanya, petani setempat menginginkan adanya bantuan mesin pembuat pupuk organik secara grandun.
 

sumber : www.jemberpost.com (Senin 06 April 2009)

Saturday, July 25th, 2009

pupuk organikPeranan pupuk organik sangat penting untuk menjaga kualitas lahan pertanian, apalagi mengingat penggunaan pupuk anorganik yang berlebihan bisa merusak kualitas tanah. Demikian pembahasan dalam Seminar Nasional Pengembangan Industri Pupuk Organik yang diselenggarakan Dirjen Industri Argo dan Kimia bertempat di Hotel Bumi Karsa, Kompleks Bidakara,Jakarta Selatan, Selasa (21/7).

"Pupuk organik bermanfaat untuk memperbaiki kualitas lahan yang telah menurun akibat penggunaan pupuk anorganik," ungkap Benny Wahyudi, Dirjen Industri Agro dan Kimia.

Menurut Benny,berdasarkan penelitian, kandungan Bahan Organik (BO) dalam tanah, saat ini kurang dari 2 persen sehingga berakibat menurunnya daya serap tanaman terhadap asupan hara yang diberikan. Padahal normalnya jumlah kandungan BO yang sehat adalah 5 persen, dan salah satu penyebabnya penurunan ini adalah penggunaan pupuk anorganik secara terus menerus.

Hal tersebut diamini Dirut PT Pupuk Sriwijaya (Pusri), Sutarto Budidarmo. Menurutnya sebagian besar lahan pertanian menurun produktivitasnya dan mengalami degradasi lahan, karena itu penggunaan pupuk organik sangat diperlukan karena mampu membantu perbaikan tingkat kesuburun tanah.

"Tapi harus diingat, pupuk organik haruslah menjadi komplementer pupuk anorganik bukan menggantikannya," tambah Sutarto. Hal ini dikarenakan kandungan hara pupuk organik yang tergolong rendah.

Menurut Sutarto, penggunaan pupuk organik secara berimbang dengan pupuk anorganik akan menjaga kualitas kesuburan tanah untuk waktu jangka panjang.

Sementara itu Dirjen Pangan Deptan, Sutarto Alimuso menjelaskan, pemerintah akan terus meningkatkan penggunaan pupuk organik di kalangan petani. "Selain subsidi harga pupuk organik, pemerintah juga berusaha mendorong penggunaan pupuk organik dengan cara memberikan Bantuan Langsung Pupuk Organik kepada petani, selain itu pemerintah juga memberikan bantuan alat-alat produksi pupuk organik dan juga hewan-hewan ternak yang kotorannya bisa menjadi bahan baku pupuk organik," jelas Sutarto.

Sekedar informasi, penggunaan pupuk organik masih sangat kecil, hanya sekitar 5 persen dari keseluruhan penggunaan pupuk di Indonesia.

Adapun Ketua Umum Dewan Pupuk Indonesia (DPI), Zaenal Soedjais dalam kesempatanan yang sama, mengkritisi kebijakan subsidi pupuk yang diberikan pemerintah. "Dalam pembuatan kebijakan mengenai subsidi pupuk, pihak industri lebih didengar daripada pihak petani maupun organisasi-organisasi lain seperti HKTI dan KTNA," jelas Zaenal.

Zaenal mengharapkan agar hal-hal semacam ini dievaluasi ulang agar pihak-pihak kecil seperti petani tidak merasa dirugikan.

 

 

Disadur dari Kompas

  • Galery

    Get the Flash Player to see the slideshow.
  •  

    March 2010
    M T W T F S S
    « Jul    
    1234567
    891011121314
    15161718192021
    22232425262728
    293031  
  • Online Chat